Klaten — Tim II Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro Tahun Akademik 2026/2027 yang ditempatkan di Desa Bentangan, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Klaten, merancang program multidisiplin bertajuk “GEMAR MANDIRI: Gerakan Bermain, Belajar, dan Berkreasi Tanpa Gawai”. Program ini digagas sebagai respons atas tingginya ketergantungan anak-anak usia sekolah di desa tersebut terhadap gawai (smartphone), yang dinilai mulai mengikis interaksi sosial, aktivitas fisik, dan minat belajar mereka. Kegiatan ini menyasar anak-anak usia sekolah dasar di Dusun Suruh Lor dan Dukuh Kidul, Desa Bentangan, dan berlangsung selama masa pelaksanaan KKN dengan mengangkat semangat SDGs poin 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) serta poin 4 (Pendidikan Berkualitas).

Gagasan ini muncul setelah mahasiswa berkoordinasi dengan ibu-ibu PKK Dusun Suruh Lor, yang menyampaikan keluhan mengenai tingginya screen time anak-anak di lingkungan mereka. Pelaksanaan program ini turut didampingi oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), yaitu Fatmawati Mustofa, S.Pt., M.Sc.; Pramesti Megayana, S.P., M.Sc.; Hega Bintang Pratama Putra, S.T.P., M.Sc.; dan Dr. Putut Suharso, S.Sos., M.A., yang mengarahkan mahasiswa agar program yang dirancang benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat setempat. Menjawab keresahan tersebut, lima mahasiswa lintas fakultas merumuskan sejumlah program yang saling melengkapi, di antaranya “Baca, Gambar, dan Bercerita” serta penyuluhan “Bijak Gawai dan Aman Berlistrik”.

Program “Baca, Gambar, dan Bercerita”, yang digagas oleh Illene Mesca Cristalin dari program studi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Budaya, merupakan kegiatan literasi yang dirancang untuk meningkatkan minat baca sekaligus mengembangkan kreativitas dan kemampuan komunikasi anak. Kegiatan diawali dengan membaca cerita pendek yang disesuaikan dengan usia peserta. Setelah memahami isi cerita, anak-anak diajak menuangkan imajinasi dan pemahaman mereka ke dalam sebuah gambar sebagai bentuk ekspresi kreatif, sebelum akhirnya diberi kesempatan menceritakan kembali isi cerita berdasarkan gambar yang telah mereka buat di hadapan teman-temannya. Melalui rangkaian aktivitas ini, anak-anak tidak hanya dilatih memahami bacaan, tetapi juga belajar mengungkapkan ide, meningkatkan rasa percaya diri saat berbicara di depan umum, serta melatih kemampuan berpikir kritis dan menyusun alur cerita.
Selama kegiatan berlangsung, anak-anak menunjukkan antusiasme tinggi pada setiap tahapan. Mereka aktif membaca cerita, berdiskusi mengenai isi bacaan, serta menuangkan imajinasi ke dalam gambar dengan penuh semangat. Beragam hasil gambar yang dibuat menunjukkan bahwa setiap peserta memiliki cara tersendiri dalam memahami dan menginterpretasikan cerita yang telah dibaca, sementara suasana belajar yang interaktif membuat mereka lebih berani bertanya, menjawab, dan saling mengapresiasi karya teman-temannya. Melalui program ini, diharapkan anak-anak tidak hanya memperoleh pengalaman belajar yang menyenangkan, tetapi juga terdorong menjadikan membaca sebagai kebiasaan sehari-hari, sebagai bekal penting bagi perkembangan bahasa, komunikasi, dan kepercayaan diri mereka sejak dini.
Program lain yang tak kalah penting adalah penyuluhan bijak gawai dan keselamatan kelistrikan bertajuk “Tekan Adiksi Gawai dan Risiko Bahaya Listrik pada Anak”, yang digagas oleh Ibrahm Adhisa Prabowo dari program studi Teknik Listrik Industri, Sekolah Vokasi. Maraknya penggunaan gawai tanpa pembatasan waktu pada anak usia sekolah dasar menjadi perhatian serius ibu-ibu PKK di Dusun Suruh Lor dan Dukuh Kidul. Selain menurunkan interaksi sosial dan prestasi belajar, tingginya durasi screen time itu kerap diiringi potensi bahaya keselamatan fisik yang luput dari pengawasan, mulai dari kebiasaan mengisi daya gawai sambil memainkannya, penggunaan charger tidak standar, hingga ketidakpedulian terhadap kabel yang terkelupas — semua berisiko memicu korsleting maupun sengatan listrik.

Menjawab keresahan tersebut, digelar penyuluhan dan sosialisasi interaktif bertajuk “Bijak Gawai dan Aman Berlistrik” bagi anak-anak usia SD di Dukuh Kidul. Kegiatan dikemas secara menarik dan mudah dicerna anak-anak, menggabungkan penyampaian materi ringkas dengan demonstrasi langsung. Anak-anak diajak melihat dan mempraktikkan prosedur pengisian daya gawai yang aman, termasuk pentingnya mencabut charger saat baterai sudah penuh dan menghindari penggunaan gawai saat masih terhubung ke sakelar listrik. Ketua Pelaksana Ibu-ibu PKK Dusun Suruh Lor menyampaikan bahwa banyak anak yang sebelumnya belum menyadari bahaya kabel charger yang terkelupas atau baterai yang overheat saat dimainkan sambil diisi daya. Menurutnya, pendekatan visual dan simulasi sederhana membantu anak-anak lebih memahami apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.

Sebagai bentuk keberlanjutan program sekaligus dukungan bagi orang tua, mahasiswa juga membagikan poster edukasi “Bijak Gawai dan Aman Berlistrik” serta leaflet panduan praktis berisi aturan screen time dan keselamatan kelistrikan rumah tangga kepada warga Dusun Suruh Lor. Melalui sinergi antara edukasi interaktif untuk anak dan pendampingan bagi orang tua lewat media cetak ini, warga Desa Bentangan diharapkan dapat membangun lingkungan tumbuh kembang yang lebih aman, produktif, dan bebas dari bahaya adiksi gawai maupun risiko kelistrikan.